Umaga’s Kitchen berlokasi di Ruko Kemang Pratama Blok MM 21 J, Bekasi, yang berada di lingkungan ruko yang berada dalam satu komplek perumahan. Kehidupan kota yang sibuk dan dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya, membuat klien berpikir untuk memulai satu usaha di salah satu ruko yang disewakan. Dimana pada akhirnya, ia memilih untuk membuat sebuah kafe.

Tapi kafe yang seperti apa? Melihat kehidupan kota yang sibuk, dimana bahkan kita tidak sempat untuk sarapan, akan sempatkah orang-orang duduk berlama-lama di sebuah kafe tiap harinya? Hal ini justru dilihat sebagai satu kesempatan, sehingga muncul ide untuk membuka sebuah kafe yang memiliki spesialisasi pada menu sarapan pagi. Nantinya, kafe ini bisa menjadi tempat singgah para penghuni perumahan sebelum mereka pergi ke kantor dan beraktivitas.

01-UMAGA'S-CAFE

Persinggahan Jelang Beraktivitas

Akhirnya dipilihlah salah satu unit ruko yang ada, di mana kebetulan ia berada persis di samping praktek dokter gigi, dengan luas area terdesain sekitar 54 m2. Meski bangunan ini memiliki dua lantai, area yang akan dialokasikan sebagai kafe nantinya hanyalah bagian lantai satunya saja. Dengan luasan yang tidak terlalu besar, kafe ini diproyeksikan dengan kapasitas maksimal 30-40 orang. Ruang yang terbatas menjadikan kafe ini harus memiliki desain yang konsep yang unik, simpel, mudah ditangkap oleh pengunjung, serta harus mudah dikerjakan. Ini menjadi tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mendesain.

Setelah melalui beberapa diskusi, akhirnya konsep desain yang diajukan adalah semi industrialis. Konsep desain ini diajukan setelah mempertimbangkan beberapa hal. Yang pertama, adalah faktor kemudahan dan waktu pengerjaan. Pada diskusi awal, klien sudah memberi tahu bahwa proyek ini mempunyai dana yang terbatas dan harus selesai dalam rentang waktu yang cepat.

03-UMAGA'S-CAFE

Pemilihan Material Berdasarkan Faktor Kemudahan dan Waktu Pengerjaan

Style industrialis diaplikasikan secara maksimal dalam pemilihan material. Penggunaan bata tempel putih dan kayu jati Belanda di dinding memberikan keuntungan dalam waktu pengerjaan yang singkat dan sederhana, sementara plafon diekspos cat hitam dan jalur elektrikal dibiarkan mentah apa adanya. Di sisi lain, sebagian besar furnitur dibuat dengan menggunakan material besi hollow dengan alas kayu pinewood natural. Kombinasi besi hitam, kayu jati Belanda, dan Pinewood, ternyata memunculkan kesan ‘mentah’ yang diharapkan, meski dengan biaya yang tidak begitu besar.

Hal ini membuat waktu pengerjaan menjadi lebih cepat, karena beberapa komponen furnitur dan arsitekturalnya bisa dikerjakan oleh pihak lain di tempat yang berbeda secara paralel, sementara bangunan sedang dirombak total.

02-UMAGA'S-CAFE

Atmosfer yang Menyesuaikan Kehidupan Orang Kota

Yang kedua, desain industrialis ini mudah ditangkap oleh orang awam, sehingga dalam ruang yang kecil dan waktu yang cepat, ruang ini akan memberi kesan yang berbeda dengan bangunan pada umumnya. Terlebih konsep industrialis ini sangat cocok dengan kehidupan orang kota pada umumnya, yang seolah bekerja di dalam pabrik yang sangat besar. Dengan atmosfer ruang yang mudah ‘tersangkut’ di kepala, tentunya promosi dari mulut ke mulut akan menjadi lebih cepat.

Layout ruang juga dibuat sesimpel mungkin untuk mengatasi keterbatasan ruang yang ada. Area servis dan kasir terletak di bagian paling belakang, supaya tidak mengganggu sirkulasi pengunjung. Area makan menempati sisi yang lebih depan, menempel kana kiri tembok untuk memudahkan sirkulasi.

Area servis dan dapur dibuat ringkas. Untuk memudahkan pemesanan, dipasang dua LCD TV tepat di dinding sebelah kasir, yang berfungsi sebagai tempat melihat menu. Makanan dipesan dan dibayar di satu titik, sehingga memudahkan pengunjung melakukan take-away. Komunikasi antar penerima pesanan dan dapur juga dipermudah dengan satu jendela besar yang juga berfungsi sebagai tempat sirkulasi makanan dan minuman, serta piring dan gelas.

04-UMAGA'S-CAFE

Aksen Rustic dan Industrialis pada Area Servis

Di depannya, area makan terbagi menjadi dua, satu seater panjang dengan kursi tinggi, serta satu lagi adalah sepasang meja dan kursi standar yang ditempatkan di tembok seberang. Pada satu sisi tembok, dipasang sebidang panjang doodleboard berwarna hijau, sementara di sisi lainnya ditempatkan bermacam-macam artwork untuk menambah kesan rustic dan industrialis dari ruangan. Di samping itu, pada doodleboard hijau juga bisa dituliskan berbagai tips kesehatan untuk mengingatkan pengunjung akan pentingnya sarapan.

Hal terakhir yang tidak kalah unik adalah keberadaan praktek dokter gigi yang terletak persis di sebelahnya. Pada umumnya, keberadaan dokter gigi bisa dikatakan sebagai gangguan – bau obat, jerit pasien, dan beberapa kemungkinan lainnya – membuat keberadaan ruang praktek dokter gigi ini harusnya dibiarkan terpisah sepenuhnya dari ruang utama kafe. Namun, karena si dokter gigi adalah kerabat langsung dari klien, akhirnya diputuskan bahwa harus ada akses antara ruang tunggu dokter gigi dan ruang makan utama kafe.

Hal ini dicoba diakomodasi secara diplomatis. Secara visual, rasanya tidak akan menguntungkan untuk kafe apabila pengunjung kafe dan pasien dokter gigi bisa saling melihat. Penambahan satu daun pintu pada dinding masif pun dirasa tidak akan menambah value dalam desain dan ruang, sehingga diputuskan untuk mengambil jalan tengah. Dinding pemisah ruang dijebol, dan diganti dengan partisi mosaik kaca sandblast, untuk membatasi akses visual. Ini akhirnya menjadi solusi ideal yang seolah bisa menyatukan dua ruang yang sangat berbeda tanpa mengurangi tingkat privasi masing-masing ruang.

Pada akhirnya, Umaga’s Kitchen akan menjadi pilihan tempat yang unik dan baik untuk sarapan, dengan konsep industrialis. Ditambah lagi, kapan lagi kita bisa periksa gigi setelah sarapan?