Mula-mula, mari kita lihat tren yang sedang hangat akhir-akhir ini: dimanapun dan kapanpun anda membaca brosur tentang properti, anda akan menemukan kata ‘green‘ sebagai bagian dari gimmick pemasaran.

Hemat energi, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan sebagainya, acapkali menjadi bagian dari konsep ‘hijau’ yang ditawarkan saat pemasaran. Konsep hijau ini tidak jarang pula disandingkan dengan kalimat bahwa bangunan ini menggunakan teknologi material paling canggih saat ini. Bangunan dikatakan pintar dan serba otomatis, mulai dari AC, hingga lighting-nya. Bangunan difungsikan seperti robot, dimana ia bisa mengatur dirinya sendiri untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah, baik suhu, angin, cahaya, dan sebagainya.

Ini adalah sebuah kemajuan, namun tentu ada harga yang harus dibayar untuk menjadikan rumah kita menjadi secanggih itu. Terkadang, untuk menjawab permasalahan masa kini dan masa depan, kita harus melihat apa yang sudah orang-orang lakukan di masa lalu. Indonesia memiliki kekayaan arsitektur yang beragam, yang tentunya sudah teruji dalam menghadapi iklim tropis yang lembab. Hal ini sangat menarik bagi kami, sehingga kami menjadikan arsitektur tradisional dan vernakular Indonesia sebagai inspirasi utama untuk menjawab tantangan iklim, penghawaan, dan pencahayaan pada tiap rumah yang kami desain. Mesin, di satu sisi memang membantu, namun rasanya kurang pantas untuk mengesampingkan kearifan lokal yang ada di sekitar kita sejak dulu.

1-Rumah-Prenggan

Tampilan Etnik Khas Kraton Yogyakarta

Ada satu kasus yang cukup menarik, di saat kami mendesain sebuah rumah di kawasan pinggiran kota Yogyakarta. Klien kami saat itu berencana untuk membangun sebuah rumah tinggal, yang akan digunakan nanti untuk menikmati masa pensiunnya. Tapaknya terletak di daerah Prenggan, dengan luas sekitar 1150 m2. Rumah ini nantinya akan berisi 3 kamar tidur, dan kira-kira akan dibangun dengan luasan sekitar 400 m2, dengan hanya sekitar 40% dari luas lahan. Dari awal pertemuan, klien sudah mengutarakan bahwa ia menginginkan desain yang bernuansa etnik Jawa, dengan nuansa khas Keraton – warna hijau dan kuning. Proyek ini dirasa cukup menarik, dan kami pun menyanggupinya.

Kami memandang ini sebagai satu kesempatan yang baik untuk mengaplikasikan ide kami, tentang bagaimana rumah biasa, bisa tetap ramah lingkungan tanpa banyak bantuan mesin. Kami memutuskan percaya kepada kearifan lokal yang sederhana. Untuk lebih mudahnya, mungkin kami akan membahas elemen desain kami dengan menggunakan pointer di tiap paragraf.

8-Rumah-Prenggan

Matahari Belum Pernah Ingkar Janji

Yang pertama adalah orientasi. Matahari belum pernah ingkar janji: ia selalu terbit di Timur, dan tenggelam di Barat. Di area garis khatulistiwa, kita menerima sinar matahari sepanjang tahun, dan ini memberikan kita satu kepastian: bahwa tiap pagi dan sore, akan ada panas yang diterima bangunan secara berlebih di sisi Timur dan Barat. Meski terkesan sepele, salah orientasi adalah satu kesalahan yang fatal pada desain. Pada Rumah Prenggan, kami secara otomatis menyesuaikan orientasi bangunan memanjang Barat-Timur demi mengurangi bagian bangunan yang menerima panas di waktu pagi dan sore.

Setelah massa bangunan ditentukan, yang kedua adalah menentukan posisi bukaan dan tritisan. Dengan prinsip yang sama, bukaan lebih banyak ditempatkan di sisi Utara dan Selatan, sehingga ruang-ruang di dalamnya menerima cahaya matahari yang dibutuhkan untuk beraktivitas, tanpa panas yang berlebih. Di ruang yang memerlukan bukaan lebar di Barat dan Timur, kami membuat tritisan yang cukup panjang dengan selasar untuk melindungi badan bangunan dari sinar matahari dan tampias air hujan, sehingga suhu ruang bisa dipertahankan di batas nyaman. Meski terkesan sederhana, cara ini sangatlah efektif dalam membantu mempertahankan kenyamanan termal ruang secara alami.

10-Rumah-Prenggan

Ruang Tamu Sederhana dan Nyaman

9-Rumah-Prenggan

Penempatan Dapur yang Strategis

Ketiga, layout ruang. Kenyamanan bisa diatur dengan penempatan ruang yang strategis. Pada Rumah Prenggan, dapur kotor, ruang makan, dan area servis diposisikan di ujung Barat massa bangunan, sementara semua kamar tidur disebar di sisi Utara-Selatan. Di tengah-tengahnya, diletakkan ruang keluarga, ruang makan, dan ruang baca dengan layout terbuka, sehingga seolah menjadi satu ruang besar, tanpa plafon. Volume ruang yang besar akan tetap memberikan kenyamanan termal meski ruang ini digunakan untuk pertemuan keluarga atau acara massal seperti pengajian, meski tanpa adanya AC.

2-Rumah-Prenggan

Vegetasi Sebagai Filter Polutan

3-Rumah-Prenggan

Pekarangan Hijau nan Asri

Lansekap dan hijauan juga tidak kalah penting. Tapak Rumah Prenggan yang terletak di lahan pojok, membuat jalan di depan bangunan sering dilalui oleh kendaraan bermotor. Vegetasi seperti bambu ditanam di dekat pagar, sehingga mampu memblok sebagian polusi udara dan suara. Area pekarangan dan halaman belakang juga direncanakan untuk ditanami rumput dan beragam jenis pepohonan, dimana selain mengurangi debu menambah daerah resapan air, juga mengurangi radiasi panas matahari yang dipantulkan dari tanah. Tumbuhan juga memberi efek psikologis yang baik karena enak dipandang.

11-Rumah-Prenggan

Material Ramah Lingkungan

Terakhir, pemilihan material bangunan. Rumah Prenggan sejak awal dipersiapkan untuk terlihat sederhana, tidak terlalu mencolok dengan bangunan sekitarnya, sehingga material yang dipilih adalah material lokal seperti genteng tanah liat, batu bata, rooster semen, dan penggunaan material alami lain seperti kayu. Bangunan pun menjadi tetap estetis, namun tidak terkesan ingin tampak lebih baik dari bangunan sekitarnya. Material yang mudah didapat pun bisa dikatakan ramah lingkungan, karena bisa dicari dalam radius beberapa kilometer saja dari site, sehingga meminimalkan jejak karbon saat distribusi material.

Pada akhirnya, Rumah Prenggan kami desain dengan sederhana, namun kami yakin bangunan ini akan tetap berperforma baik. Seperti kata Leonardo Da Vinci, “simplicity is the ultimate sophistication”.